Senin, 29 Maret 2021

 

Paper Bisnis Kehutanan                                                                Medan,   Maret 2021

PELUANG BISNIS BIOBRIKET LIMBAH HASIL HUTAN SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN

 

Dosen Penanggung jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

 

 Disusun Oleh :

Niara Sari Sevania Simarmata

181201096

MNH 6

 

 


 

 

 

 


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

          Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Bisnis Kehutanan yang berjudul “Peluang Bisnis Biobriket Limbah Hasil Hutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan”. Paper ini dibuat untuk memenuhi syarat dalam tugas Bisnis Kehutanan bagi mahasiswa Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si selaku dosen penanggungjawab dalam Matakuliah Bisnis Kehutanan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan paper  ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis. Semoga paper ini dapat bermanfaat kedepannya.

 

 

 

 

 

Medan,   Maret 2021

 

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

   Halaman

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 2

1.3 Tujuan....................................................................................................... 2

BAB II

PEMBAHASAN

       2.1 Pengertian Biobriket................................................................................. 3

       2.2 Manfaatn Biobriket.................................................................................. 4

    2.3 Bahan Baku BiobriketHaH.............................................................................. 4

2.4 Peluang Bisnis Biobriket.......................................................................... 5

    

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan............................................................................................... 6

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penggunaan energi di Indonesia masih di dominasi oleh penggunaan energi tak terbarukan yang berasal dari fosil, khususnya minyak bumi dan batu bara1 , namun seiring berjalannya waktu, ketersediaan energi fosil semakin menipis dan untuk mengantisipasinya energi baru terbarukan (EBT) merupakan alternatif terbaik . Penggunaan energi baru dan terbarukan harus menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia tidak hanya sebagai upaya untuk mengurangi pemakaian energi fosil melainkan juga untuk mewujudkan energi bersih atau ramah lingkungan (Azhar, 2018).

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba diterapkan dalam skala kecil di tanah air (Lubis, 2007)

Dengan semakin menipisnya cadangan atau sumber bahan bakar fosil, manusia terdorong mencari dan mengembangkan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar dari fosil terutama sumber energi terbarukan. Sumber energi ini juga diharapkan lebih ramah lingkungan dan tidak membahayakan kehidupan manusia. Sebagai negara pertanian, Indonesia memiliki sumber energi potensial yang dapat dikembangkan yaitu biomassa (Afrizal dan Didin, 2013)

Pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan perlu dikembangkan mengingat peran dan harga BBM terus meningkat dan melambung tinggi sebagai pengganti untuk penyedia energi yang berkesinambungan. Berbagai cara yang dilakukan untuk mengetahui potensi sumber daya energi yang dapat dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah dengan melakukan pendataan. Berdasarkan data yang diperoleh dapat ditentukan langkah serta strategi dalam pemanfaatan dan pengelolaan seluruh potensi sumber kekayaan alam terutama sumber daya energi yang ada untuk penyediaan kebutuhan energi pada wilayah tertentu dan jenis kegiatan, sehinggadapat ditetapkan strategi pemanfaatannya. Penganekaragaman penggunaan energy dengan memanfaatkan sumber daya energi setempat, diharapkan dapat mengurangiketergantungan pada sumber daya energi minyak bumi, sehingga dalam pemanfaatandan pengelolaan sumber daya energi minyak bumi harus benar-benar kepada yang membutuhkannya terutama yang menjadi skala prioritas  (Kholiq, 2015)

Salah satu energi terbarukan yang perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan adalah biomassa. Biomassa adalah suatu limbah padat yang bisa dimanfaatkan lagi sebagai sumber bahan bakar. Biomassa meliputi limbah kayu, limbah pertanian/perkebunan/hutan, komponen organik dari industri dan rumah tangga. Biobriket merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik atau limbah pertanian (biomassa) yang kurang termanfaatkan. Beberapa jenis limbah biomassa memiliki potensi yang cukup besar seperti limbah kayu, sekam padi, jerami, ampas tebu, cangkang sawit, dan sampah kota. Potensi lain yang belum tergarap adalah limbah cangkang kakao. Limbah-limbah tersebut apabila tidak dimanfaatkan maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat merusak ekosistem lingkungan. Teknologi pembuatan biobriket telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan mengkomposisi berbagai macam bahan baku yang berasal dari bahan-bahan organik dan limbah pertanian (Munas et al., 2012)

 

1.2  Rumusan Masalah

1)      Apa itu Biobriket?

2)      Apa manfaat Biobriket?

3)      Apa saja bahan baku untuk pembuatan Biobriket?

4)      Bagaimana peluang bisnis biobriket?

 

1.3  Tujuan

1)      Untuk mengetahui apa itu biobriket

2)      Untuk mengetahui apa saja manfaat biobriket

3)      Untuk mengetahui bahan baku prmbuatan biobriket

4)      Untuk mengetahui peluang bisnis biobriket

BAB II

ISI

 

2.1 Pengertian Bioriket

Biobriket adalah sebuah balok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar ataupun sumber energi yang berasal dari makhluk hidup. Prinsip pengembangan bahan bakar alternatif yang ditawarkan pada masyarakat harus murah, mudah dibuat, dan mudah dicari sumber bahannya. Berdasarkan hal tersebut, briket arang merupakan salah satu pilihan yang tepat sebagai alternatif pengganti BBM. Pembuatan briket arang melalui beberapa proses antara lain: (a) proses karbonisasi, (b) mencampur bahan perekat, dan (c) mencetak dan mengeringkan briket.

Briket adalah arang dengan bentuk tertentu yang dibuat dengan teknik pengepresan tertentu dan menggunakan bahan perekat tertentu sebagai bahan pengeras. Biobriket merupakan bahan bakar briket yang dibuat dari arang biomassa hasil pertanian (bagian tumbuhan), baik berupa bagian yang memang sengaja dijadikan bahan baku briket maupun sisa atau limbah proses produksi/pengolahan agroindustri. Biomassa hasil pertanian, khususnya limbah agroindustri merupakan bahan yang seringkali dianggap kurang atau tidak bernilai ekonomis, sehingga murah dan bahkan pada taraf tertentu merupakan sumber pencemaran bagi lingkungan. Dengan demikian pemanfaatannya akan berdampak positif, baik bagi bisnis maupun bagi kualitas lingkungan secara keseluruhan Biobriket yang berkualitas mempunyai ciri antara lain tekstur halus, tidak mudah pecah, keras, aman bagi manusia dan lingkungan, dan memiliki sifat-sifat penyalaan yang baik. Sifat penyalaan ini diantaranya mudah menyala, waktu nyala cukup lama, tidak menimbulkan jelaga, asap sedikit dan cepat hilang serta nilai kalor yang cukup tinggi.

Secara umum teknik pembuatan biobriket tidak terdapat perbedaan yang berarti. Kalau pun ada perbedaan, hanya menyangkut komposisi bahan penunjang, seperti tanah liat (clay), lem kanji, air, dan bahan pencampur lainnya. Komposisi bahan tersebut sangat tergantung dari jenis bahan baku untuk pembuatan biobriket. Untuk membuat biobriket, seperti sekam (limbah penggilingan padi), harus dibakar terlebih dahulu menjadi arang. Proses pembakaran bahan baku menjadi arang umumnya dilakukan secara tidak langsung (bahan tidak langsung bersentuhan dengan nyala api). Bahan baku seperti sekam dimasukkan ke dalam cerobong yang di dalamnya terdapat bara api. Api dalam cerobong akan menyala dan merambat membakar sekam di sekitarnya. Pembakaran berlangsung tanpa menimbulkan nyala api sehingga akan terbentuk arang

2.2 Manfaat Biobriket

Biobriket dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy terbarukan. Keuntungan lain penggunaan biobriket adalah  kandungan gas buang hasil pembakaran relatif lebih aman dibandingkan briket batubara. Tidak hanya itu biobriket juga dapat dimodifikasi dengan berbagai kreatifitas. Biobriket sebagai sumber energy terbarukan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, contoh sederhananya adalah bahan bakar untuk memasak didapur. Sejak dulu masyarakat sudah ada yang memasak menggunakan kayu namun penggunaan kayu dianggap kurang efisien karena tidak praktis dan menyebabkan bekas hitam pada alat masak.

Hal ini dapat menjadi latar belakang untuk mengajak masyarakat kembali menggunakan bahan  bakar baru dan terbarukan dengan menggunakan biobriket yang dikemas sedemikian rupa dan lebih efektif serta ramah lingkungan. Biobriket juga dapat diubah menjadi sumber energy listrik dengan kalor yang dimilikinya. Beberapa penelitian mengatakan bahwa biobriket sudah dapat digunakan sebagai penyimpan

2.3 Bahan Baku Biobriket

Bahan baku untuk pembuatan biobriket yang berasal dari berbagai kayu hutan, seperti kayu kempas (Koompassia malaccensis maing), meranti (Shorea spp) dan pulai (Alstonia spp). Hasil penelitian membuktikan bahwa semua kayu dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan biobriket. Berdasarkan penelitian ini, biobriket yang berasal dari kayu kempas disusul meranti dan pulai memiliki peningkatan kalor yang cukup tinggi. Selain kayu, limbah pengolahan kelapa berupa tempurung juga dapat dibuat menjadi biobriket.

Pembuatan biobriket dari arang tempurung kelapa sawit yang merupakan produk samping proses pirolisis pada produksi asap cair untuk industri karet alam. pendayagunaan biomassa sebagai bahan bakar alternatif terutama dari limbah agroindustri terus dikembangkan. Beberapa bahan baku lain yang sudah dibuat biobriket, khususnya limbah agroindustri, antara lain adalah limbah bambu, tandan buah kosong kelapa sawit, sekam padi, dan limbah batang tembakau.

Hasil hutan kayu banyak meninggalkan limbah dalam pengelolaannya, limbah dari hasil hutan berupa kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biobriket dengan demikian akan menambahkan nilai ekonomi hutan. Tidak hanya hasil hutan berupa kayu saja namun hasil hutan non kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biobriket, misalnya bambu. Sudah terdapat beberapa penelitian yang mangatakan bahwa bambu memiliki nilai kalor yang cukup baik, hal ini memungkin untuk memanfaatkan bambu sebagai bahan baku pembuatan biobriket.

Bahan baku pembuatan biobriket juga dapat menggunakan tempurung kelapa. Selain tempurung kelapa, limbah biomassa yang banyak dijumpai adalah limbah kayu baik berupa serbuk gergaji, potongan-potongan dan ranting-ranting pepohonan. Serbuk kayu/gergaji merupakan limbah dari industri penggergajian berupa butiran kayu, sedetan, dan potongan - potongan kayu yang dihasilkan dari proses menggergaji.

2.4 Peluang Bisnis Biobriket

            Berdasarkan latar belakang dan manfaat dari biobriket maka dapat diketahui bahwa biobriket memiliki peluang bisnis yang besar. Mengingat bahwa kesadaran masyarakat dunia yang mulai sadar untuk kembali ke alam yaitu lebih memilih sumber energy terbarukan dari pada energy yang tidak terbarukan maka biobriket menjadi pilihan yang tepat. Saat ini produksi biobriket juga sudah mulai banyak dilakukan, bahkan Indonesia sudah mengekspor keberbagai Negara asing namun masih dalam bentuk balok briket. Apabila balok briket tersebut semakin dikembangkan dan ditambahkan unsur seni bahkan menjadi sesuatu yang lebih lagi misalnya kompor berbahan bakar briket maka akan memberikan peluang yang lebih besar lagi untuk meningkatkan nilai tambah biobriket. Selain itu bahan baku yang melimpah juga menjadi pendukung peluang bisnis biobriket..

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.      Biobriket adalah sebuah balok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar ataupun sumber energi yang berasal dari makhluk hidup.

2.      Biobriket dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy terbarukan.

3.      Bahan baku untuk pembuatan biobriket yang berasal dari berbagai kayu hutan, seperti kayu kempas (Koompassia malaccensis maing), meranti (Shorea spp) dan pulai (Alstonia spp), Bambu, Tempurung kelapa dan limbah kelapa sawit.

4.      Biobriket memiliki peluang bisnis yang tinggi karena sudah diminati pasar internasional dan bahan baku yang melimpah

5.      Biobriket dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar saat memasak dan sumber energy lainnnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal V dan Didin S. 2013. Penggunaan Biobriket Sebagai Bahan Bakar Alternatif Dalam Pengeringan Karet Alam. Warta Perkaretan. 32 (2): 65-73

Azhar M. 2018. Implementasi Kebijakan Energi Baru dan Energi Terbarukan Dalam Rangka Ketahanan Energi Nasional. Adminitrative Law & Governance Journa. 1 (4)

 

Kholiq I. 2015. Pemanfaatan Energi Alternatif Sebagai Energi Terbarukan Untuk Mendukung Subtitusi BBM. Jurnal IPTEK. 19 (2)

 

Lubis A. 2007. Energi terbarukan dalam pembangunan berkelanjutan. Jurnal Teknik Lingkungan. 8 (2): 155-162

Munas M, Elmi S dan Sari E. 2012. Pembuatan Biobriket Dari Limbah Cangkang Kakao. Jurnal Litbang Industri. 2 (1)


 

Kamis, 07 Januari 2021

REVIEW JURNAL PENILAIAN HUTAN

 


Tugas Penilaian Hutan                                                                             Sei Lala,   Januari 2021

Review Jurnal “Jenis, Potensi dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan yang dimanfaatkan Masyarakat Sekitar Tahura Bukit Barisan (Studi Kasus: Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran)

 

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

 

Disusun Oleh :

Niara Sari Sevania Simarmata

181201096

MNH 5

 

 

 

 

 

 


 

 

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

Review Jurnal

Judul

Jenis, Potensi dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan yang dimanfaatkan Masyarakat Sekitar Tahura Bukit Barisan (Studi Kasus: Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran)

Jurnal

-

Volume dan Halaman

-

Tahun

2012

Penulis

Dapot Parasian Siagian, Oding Affandi dan Liliek Asmono

Reviewer

Niara Sari Sevania Simarmata

Tanggal

3 Januari 2021

Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka meningkat pula kebutuhan terhadap lahan untuk berbagai kepentingan. Hal ini juga yang terjadi di sekitar kawasan hutan Taman Hutan Raya Bukit Barisan. Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan ini sangat tinggi, karena sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Dalam pengelolaan lahan pertaniannya mereka membutuhkan lahan. Sehingga kawasan hutan Tahura Bukit Barisan sangat rentan dari gangguan masyarakat sekitar. Karena pola pemanfaatan yang dilakukan selama ini bersifat ekstraktif (hanya mengambil) hasil hutan saja tanpa ada upaya budidaya. Hal ini merupakan yang menjadi alasan dari penelitian ini.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan potensi hasil hutan kayu atau non kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berinteraksi dengan kawasan Tahura, kedua untuk mengetahui besaran nilai ekonomi setiap jenis hasil hutan yang dimanfaatkan dan ketiga untuk mengetahui besaran nilai persentase hasil hutan terhadap pendapatan masyarakat.

Subjek Penelitian

Akademisi dan masyarakat sekitar.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan April 2012 hingga Juli 2012 di dua desa sekitar kawasan Tahura Bukit Barisan Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara, yaitu: Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran. Alat dan bahan yang digunakan adalah: kamera digital, seperangkat komputer, kalkulator, kuisioner, alat tulis, matriks metodelogi penelitian dan data statistik Desa Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat.

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis data: 1. Untuk hasil hutan yang belum dikenal harga pasarnya tetapi dapat ditukarkan atau dibandingkan dengan nilai barang dan jasa yang telah ada pasarnya, maka penilaian disatukan dengan metode relatif. Sedangkan untuk barang dan jasa hasil hutan yang belum dikenal pasarnya dan tidak termasuk dalam sistem pertukaran, maka penilaian dilakukan dengan metode biaya pengadaan, yaitu banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang dan jasa hutan tersebut. 2. Menghitung nilai rata-rata jumlah barang yang diambil setiap responden per jenis. 3. Menghitung nilai total pengambilan per unit barang per tahun TP = RJ x FP x JP 4. Menghitung nilai ekonomi barang hasil hutan per jenis barang setiap tahun NH = TP x HH 5. Mengitung persentase nilai ekonomi dengan cara: % NE = 𝑁𝐸𝑖 πœ€π‘πΈ X 100% 6. Menghitung pendapatan total, pendapatan dari dalam hutan dan luar hutan Menghitung tingkat kontribusi pemanfaatan hasil hutan. Kontribusi = Pendapatan dalam Hutan Pendapatan Total x 100%.

Dalam jurnal ini juga dijelaskan batasan dalam penelitian.

Hasil Penelitian

Hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bambu, keranjang bambu, humus, kayu bakar, tanaman hias, satwa, dan anakan pohon. Terdaapat tiga jenis bambu yang digunakan masyarakat beserta fungsinya yaitu Pemanfaatan jenis bambu petung adalah untuk tiang konstruksi rumah kasa, karena ukurannya lebih besar. Bambu Regen untuk bahan dasar pembuatan kerajinan keranjang sayur dan bahan konstruksi rumah kasa untuk tanaman hias oleh pengusaha tanaman hias. Pemanfaatan Bambu Tali di Desa Kuta Rayat adalah untuk acak-acak yaitu tiang penyangga tanaman pertanian seperti Tomat dan Cabai.

Untuk tanaman hias yang dimanfaatkan masyarakat yaitu anggrek dengan Harga per unit anggrek adalah Rp. 12.000, Kadaka sebagai tanaman hias untuk dijual dengan harga Rp. 20.000/pot. Tanaman Paku juga digunakan untuk tanaman hias dan media tanam anggrek dengan tujuan komersil. Adapun harga rata-rata tumbuhan paku adalah Rp. 15.000. Masyarakat juga memanfaatkan kantung semar dengan tujuan dijual dengan harga Rp. 12.000 per unitnya.

Untuk satwa masyarakat memanfaatkan kupu-kupu dengan harga Rp.50.000/ekor dan babi hutan Rp.120.000/ekor. Humus didapat dari serasa tumbuhan yang dapat dijual dengan kisaran harga Rp. 10.000-Rp. 15.000/kg. Masyarakat juga memanfaatkan anakan pohon yang didapan dari hasil budidaya maupun hutan. Untuk kayu bakar memiliki harga Rp. 8.000/ikat.

Kesimpulan

Jenis hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat Desa Dolat Rayat adalah: Tanaman Hias, Humus, Bambu, Keranjang Bambu, Satwa (Kupu-kupu) dan Anakan Pohon. Sedangkan jenis hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat Desa Kuta Rayat adalah: Humus, Bambu, Kayu Bakar dan Satwa (Babi Hutan). 2. Persentase nilai ekonomi hasil hutan terbesar di Desa Dolat Rayat adalah Keranjang Bambu yaitu sebesar 34.65% atau Rp. 51.170.000 dan persentase nilai ekonomi terkecil adalah Tumbuhan Paku yaitu: 1.17% atau Rp. 2.650.000 sedangkan nilai ekonomi hasil hutan terbesar di Desa Kuta Rayat adalah Bambu yaitu sebesar 60.17% atau Rp. 52.800.000 dan persentase nilai ekonomi terkecil adalah satwa (Babi Hutan) 3.6% atau Rp. 3.120.000. 3. Potensi terbesar yang berpotensi dikembangkan, dan memberi kontribusi nilai ekonomi yang besar adalah Kupu-kupu, hanya dengan total pengambilan 324 ekor pertahun kontribusi nilai ekonominya sebesar Rp. 16.200.000 atau 10.97% di Desa Dolat Rayat dan 8.2% dikedua Desa penelitian.

Kelebihan

Jurnal yang berjudul “Jenis, Potensi dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan yang dimanfaatkan Masyarakat Sekitar Tahura Bukit Barisan (Studi Kasus: Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran)” disajikan dengan sangat detail, dalam penulisannya juga memiliki latar belakang dan tujuan yang jelas. Penulis mempermudah pembaca dengan menyajikan tabel dan juga diagram untuk mengetahui dengan cepat hasil dari  penelitian. Penelitian yang dilakukan juga didukung dengan literatur yang ada maka dari itu jurnal ini cukup memberikan wawasan dan dapat digunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan nilai ekonomi hasil hutan di Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat dan Desa Kuta Rayat Kecamatan Naman Teran.

Kekurangan

Dalam jurnal ini tidak ada halaman yang mempermudah pembaca dalam mencari informasi dan juga tidak ada sumber penerbit jurnal begitupun dengan volume dan nomor jurnal, sehingga hasil penelitian ini sulit dicantumkan sebagai literatur dalam penelitian berikutnya.